BAB I
Pendahuluan
Pengertian Pembaharuan
Dalam bahasa
Indonesia telah selalu dipakai kata modern, modernisasi, dan modernisme,
seperti yang terdapat umpamanya dalam “Aliran-aliran dalam Islam” dan “Islam
dan Modernisasi”.
Kemajuan lmu
pengetahuan dan teknologi modern memasuki dumnia Islam terutama sesudah
pembukaan abad ke -19 M yang dalam sejarah Islam dipandang sebagai permulaan
periode Modern.
Maju Mundurnya Umat Islam dalam Sejarah
Sebagaimana telah disebut pembaharuan dalam Islam timbul
dalam periode sejarah Islam yang disebut modern dan mempunjyai tujuan untuk
membuat umat Islam kepada kemajuan. Dalam faris besarnya sejarah Islam dapat
dibagi ke dalam tiga periode besar ; Klasik, Pertengahan, dan Modern.
Periode klasik (650
- 1250 M) merupakan zaman kemajuan dan dibagi menjadi 2 fase. Pertama, fase ekspansi,
integrasi, dan puncak kemajuan (650 - 1250 M). Di zaman inilah daerah Islam
meluas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di barat dan melalui Persia
sampai ke India Timur. Di masa ini pula berkembang dan memuncak ilmu
pengetahua, baik dalam bidang agama maupun bidang non agama, dan kebudayaan
Islam. Zaman inilah yang menghasilkan ulama’-ulama’ besar seperti Imam Malik,
Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, dan Imam Ibnu Hambal, dalam bidang hokum, Imam
Al-Asy’ari, Imam Al-Maturidi, pemu.ka-pemuka Mu’tazilah seperti, Wasil bin
‘Ata, Abu al-Huzaib, Abu an-Nazam, dan al- Juba’I dalam bidang teologi, Zunnun
al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, dan al-Hallaj, dalam mitisisme atau tasawuf,
al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Maskawaih dalam filsafat, dan Ibn
al-Haisam, Ibn Hayyan, Al-Khawarizmi, Al-Ma’udi, dab Ar – Razi dalam bidang
ilmu pengetahuan.
Kedua, fase
disintregasi (1000-1250 M), di masa ini keutuhan umat Islam dalam bidang
politik mulai pecah, kekuasaan khalifah menurun dan akhirnya Baghdad dapat dirampas dan dihancurkan oleh
Hulagu di tahun 1258 M. Khalifah sebagai lambang kesatuan politik umat Islam
hilang.
Periode pertengahan
(1250-1800 M) juga dibagi dalam 2 fase. Pertama, fase kemunduran (1250-1500 M).
Di zaman ini didentralisasi dan disintegrasi bertambah meningkat. Perbedaan di
antara Sunni dan Syi’ah dan demikian juga antara Arab dan Persia bertambah nyata
kelihatan. Dunia Islam terbagi dua, bagian
Arab yang terdiri atas Arabia, Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan Afrika Utara
dan bagian Persia yang terdiri atas Balkan, Asia Kecil, Persia, dan Asi Tengah
dengan Iran sebagai pusat.
Kedua, fase 3
kerajaan besar (15000-1800 M) yang dimulai dengan zaman kemajuan (1500-1700 M)
dan zaman kemunduran (1700-1800 M). Tiga kerajaan besar yang dimaksud ialah
Kekuasaan Ustmani (Ottoman Empire) di Turki,
Kerajan Safawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India.
Di zaman
kemunduran, kerajaan Ustmani terpukul di Eropa, Kerajaan Safawi dihancurkan
oleh serangan suku bangsa Afghan, Kerajaan Mughal diperkecil oleh
pikiran-pikiran raja-raja India.
Kekuatan militer dan kekuatan politik umat Islam menurun. Akhirnya Napoleion di
tahun 1798 M menduduki Mesir sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting.
Periode Modern
(1800 M - sekarang), merupakan zaman kebangkitan umat Islam. Jatuhnya Mesir ke
tangan barat menginsafkan dunia Islam
akan kelemahannya dan menyadarkan umat Islam bahwa di barat telah timbul
peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi Islam. Raja- raja
dan pemuka- pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana meningkatkan mutu dan
kekuatan umat Islam kembali. Di periode modern ini lalu timbulnya ide- ide
pembaharuan dalam Islam.[1]
BAB II
Pembahasan
ILMU KALAM MASA KINI ; HARUN NASUTION, RASYIDI, HASAN HANAFI, dan
ISMAIL FARUQI
- Harun Nasution
1. Riwayat Hidup Harun Nasution
Harun Nasution
lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara, 23 September 1919. Setelah
menyelesaikan pendidikan tingkat dasar Hollandsch – In – Landsche School (HIS),
ia melanjutkan studi Islam ke tingkat menengah yangbersemangat modernis,
Moderne Islamietische Kweekschool (MIK). Karena desakan orang tua ia
meninggalkan MIK dan pergi belajar ke Saudi Arabia. Di negeri gurun pasir
ini tidak tahan lama dan memilih orang
tuanya agar bisa pindah studi ke Mesir. Di negeri Sungai Nil ini Harun
mula-mula mendlama Islam di Fakultas Ushuludin, Universitas Al –Azhar, namun ia
merasa tidak puas dan kemudian pindah ke Universitar Amerika (Kairo) . Di
universitas ini, Harun tidak mendalami Islam, tetapi ilmu pendidikan dan
ilmu-ilmu social. Selama beberapa tahun sempat bekerja di perusahaan Saraski
dan kemudian di Konsulat Indonesia
karena setamat dari Universitas tersebut dengan ijazah B.A. di kantongnya. Dari
Konsulat itulah, putra Batak yang mempersuntng seorang Putri dari Negeri Mesir
ini, memulai karir diplomatiknya. Dari Mesir, ia ditark ke Jakarta
kemudian diposkan sebagai sekretaris pada Kedutaan Besar Indonesia di Brussel.
Situasi politk
dalam negeri Indonesia
pada tahun 60-an membuatnya mengundurkan diri pada karir diplomatic dan kembali
ke Mesir. Di mesir ia kemmbali menggeluti dunia ilmu di sebuag sekolah tinggi
studi Islam, di bawah bimbingan salah seorang ulama’ fiqih Mesir terkemuka, Abu
Zahrah. Ketika belajar, di sinilah Harun mendapat tawaran untuk mengambil Studi
Islam di Universitas McGill, Kanada. Untuk tingkat Magister di Universitas ini,
ia menulis tentang “Pemikiran Negara Islam di Indonesia” , dan untuk disertai
Ph.D. ia menulis tentang “Posisi Akal dalam Pemikiran Teologi Muhammad Abduh “.
Setelah meraih doctor, Harun kembali ke tanah air dan mencurahkan perhatiannya
pada pengembangan pemikiran Islam lewat IAIN. Ia sempat menjadi rector IAIN
Jakarta selama 2 periode (1974-1982). Kemudian ia memelopori pendirian pascasarjana
unruk Studi Islam di IAIN.[2]
- Pemikiran Kalam Harun Nasution
- Peranan Akal
Bukankah secara kebetulan bila Harun Nasution memilih
problematika akal dalam system teologi Muhammad Abduh sebagai bahan kajian
desertasinya d Universitas McGill, Montreal,
Kanada. Besar kecilnya peranan akal dalam system teologi suatu aliran sangat
menentukan dinamis atau tidaknmya pemahaman seseorang tentang ajaran Islam.
Berkenaan dengan akal ini, Harun Nasution menulis demikian, “ Akal melambangkan
kekuatan manusia. Karena akallah, manusia mempunyai kesanggupan untuk
menaklukkan makhluk lain sekitarnya.[3]
Pemakaian akal dalam sejarah Islam bukan terjadi dalam
soal – soal keduniaan asaja, tetapi juga dalam soal-soal keagamaan sendiri.
Karena Karena ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung masalah keimanan, ibadah, dan
hidup kemasyarakatn manusiadikenal dengan muamalah, berjumlah kurang lebih
hanya 500 ayat, dan itupun pada umumnya datang dalam bentuk prinsip-prinsip
dang garis-garis besar tanpa penjelasan lebih lanjut melalui perincian maupun
cara pelaksanaannya, maka akal banyak dipaka dalam masalah iman, ibadah, dan
muamalah. Pemaikaian akal yang dilakukan ulama’ terhadap teks ayat al-Qur’an
dan hadis disebut jtihad, dan ijtihad – tegasnya pemikiran – merupakan sumber
ketiga dalam Islam. Jelasnya, sumber ajaran Islam adalah al-Qur’an, hadis, dan
akal. [4]
- Pembaharuan Teologi
Yang dikemukakan di sini adalah
dasar-dasar teologis fundamental yang akan meliputi pembahasan tentang Tuhan,
alam, dan manusia,
- Tuhan
Tuhan adalah prinsip awal dari segala yang ada. Ia wajib
adanya, sedangkan selain – Nya yang biasa disebut alam dan makhluk adalah
mungkin adanya.
- Alam
Alam semesta bukanlah realitas terakhir sebagaimana yang
disangkakan para lmuwan alam yang sekuler. Alam semesta tak lain hanyalah
tanda-tanda dari kekuasaan dan kebesaradaan Tuhan, satu-satunya ansitas yang
patut disebut realitas terakhir (The Ultimate Reality).
- Manusia
Secara biologis manusia adalah makhluk yang paling
sempurna. Ia merupakan hasil akhir dari proses penciptaan evolusi dalam
semesta. Manusia adalah makhluk dua dimensional. Di satu pihak ia terbuat dari
tanah yang menjadikannya makhluk fisik, di pihak lain ia juga makhluk spiritual
karena ditiupkannya ruh Tuhan. Dengan demikian manusia menduduki posisi yang
unik antara alam semesta dan Tuhan, yang memungkinkan berkomunikasi dengan
keduanya.[5]
Pembaharuan teologi, yang menjadi predikat Harun
Nasution,
pada dasarnya dibangn atas asumsi bahwa keterbelakangandan
kemunduran umat Islam Indonesia
(juga dimana saja) adalah disebabkan “ada yang salah” dalam teologi mereka.
Pendangan ini serupa dengan pandangan kaum modernis lain pendahulunya (Muhammad
Abduh, Rasyid Ridha, Al- Afghani, Sayid Amer Ali, dan lainnya) yang memandang
perlu untuk kembali kepada teologi Islam yang sejati. Dengan demikian, jika
hendak mengubah nasib umat Islam, menurut Harun Nasution, umat Islam hendaklah
mengubah teologi mereka menuju teologi yang berwatak free-will,
rasional, serta mandiri.[6]
- Hubungan Akal dan Wahyu
Akal mempunyai kedudukan tinggi dalam al-Qur’an. Dalam
pemikiran
Islam baik di bidang filsafat dan ilmu kalam, apalagi di bidang
fiqih, akal tidak pernah membatalkan wahyu. Akan tetap tunduk kepada teks
wahyu. Akal dipakai untuk memahami teks wahyu.[7]
Nalar dan Wahyu
Dilihat sepintas,
filsafat tidak berguna di samping agama. Mengapa? Karena filsafat adalah usaha
akal manusia, sedangkan agama berdasarkan wahyu Tuhan. Dan seperti yang ditulis
Harun Nasution, “ Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolute dan
mutlak benar, sedangkan pengetahuan yang diperoleh akal berfikir relative,
mungkin benar dan mungkin salah.”[8]
- H.M Rasyidi
1.
Riwayat H.M . Rasyidi
Dalam konteks kajian akademik Islam Indonesia, orang
akan sulit mengesampingkan H.M. Rasyidi, lulusan lembaga pendidikan Islam di
Mesir yang melanjutkan ke Paris, dan kemudian memperoleh pengalaman mengajar di
Kanada. Lepas dari retorika-retorika anti baratnya, orang tak akan luput
mendapati bahwa hampi keseluruhan konstruksi akademiknya dibangun atas dasar
unsure-unsur yang ia dapatkan dari Barat. Dialah yang berpengaruh dalam usaha mengirimkan
para lulusan IAIN atau sarjana lainnya ke Montreal
sehingga banyak orang yang benar-benar berterima kasih kepadanya. Dan apa yang
telah dirintisnya itu kemudian diteruskan dalam skala yang lebih besar dan
penuh harapan oleh Munawir Sjadzali.[9]
2. Pemikiran Kalam H.M. Rasyidi
Pemikiran kalam Rasyidi dapat
ditelusuri dari kritkan-kritikan yang dialamatkan kepada Harun Nasution dan
Nurcholis Madjid.
- Tentang Perbedaan Ilmu Kalam dan Teologi
Rasyidi menolak pandangan Harun Nasution yang menyamakan pengertian ilmu
kalam dan teologi. Menurunya, orang Barat memakai istilah teologi untuk
menunjukkan tauhid atau kalam karena mereka tak memiliki istilah lain.
- Tema-tema ilmu Kalam
Salah satu tema ilmu kalam Harun Nasution yang dikritik Rasyidi
adalah deskripsi aliran-aliran kalam yang sudah tidak relevan lagi dengan
kondisi umat Islam sekarang, khususnya di Indonesia. Untuk itu, Rasyidi
berpendapat bahwa menonjolkan perbedaan penndapat Asya’ariyah dan Mu’tazilah,
sebgaimana dilakukan Harun Nasution, akan melemahkan iman para mahasiswa.
- Hakikat Iman
Bagian ini adalah kritikan Rsayidi terhadap diskripsi
iman yang diberikan Nuschols Madjid, yakni “percaya dan menaruh kepercayaan
kepada Tuhan. Dan sikap apresiatif kepada Tuhan merupakan inti pengalaman keagamaan
seseorang. Sikap ini disebut takwa. Takwa diperkuat dengan kontak yang kontinu
dengan Tuhan. Apresiasi ketuhanan membutuhkan kesadaran ketuhanan yang
menyeluruh, sehingga menumbuhkan keadaan bersatunya hamba dengan Tuhan.” Perlu
dijelaskan di sini bahwa bersatunya seseorang dengan Tuhan tidak merupakan
aspek yang mudah dicapai, mungkin hanya seorang saja dari sejuta orang. Jadi,
yang lebih penting dari aspek penyatuan itu adalah kepercayaan, ibadah, dan
kemasyarakatan.[10]
- Hasan Hanafi
- Riwayat Singkat Hidup Hasan Hanafi
Hanafi dilahirkan pada tanggal 13 Februari 1935 di
Kairo. Ia berasal dari keluarga musisi. Pendidikannya diawali pada tahun 1948
dengan menamatkan pendidikan tingkat dasar, dan melanjutkan studinya di
Madrasah Tsanawiyah Khalil Agha, Kairo yang diselesaikannya empat tahun.[11]
HasanHanafi
adalah seorang intelektual sekaligus ideolog muslim berkebangsaa Mesir yang
sangat produktif. Meskipun di negaranya sendiri ia kurang diterima bahkan
dikecam oleh kelompok Islam – yang oleh Komarudin Hidayat disebut konservatis –
skripturalis- ia sempat meluangkan gagasan-gagasannya dalam buku-buku yang
rata-rata ditulis dengan amat serius dan memenuhi standar akademis. Semua karya
Hanafi tersebut adalah serangkaian pekerjaan besarnya yang disebut dengan
istilah proyek tradisi dan pembaharuan (al –Turatswa al- Tajdid)[12].
b.
Pemikiran Kalam Hasan
Hanafi
1.
Kritik Terhadap Teologi
Tradisional
Masyarakat terbagi
ke dalam 2 tipe. Pertama, masyarakat tradisional dimana tradis menjadi sumber
inspirasi, menjadi pembawa system-sistem nilai dan suatu argument bagi
otoritas. Masyarakat di Asia, Afrika, dan Amerika Latin adalah bagian dari tipe
ini, dimana tradisi menjadi aliran utama dalam kesadaran bersejarah. Dalam
masyarakat ini, perkembangan tidak bisa terjadi tanpa mempertimbangkan
tradisi-tradisi kehidupan yang memberi weltanschauung pada mayarakat dan
menentukan penggerak mereka untuk bertindak [13]
Sebuah sekte
kepercayaan bukanlah kehendak doktrin yang sederhana, tetapi ini diambil oleh
sebuah sekte (firqah), sebuah kukuasaan politik baik itu di dalam opsisi atau
di dalam otoritas. Ada
3 macam oposisi : underground, bekerja dari dalam (Syi’ah), aboveground,
yang bekerja dari luar (Khawarij), dan mereka yang bekerja dari luar juga
dari dalam (Mu’tazilah).[14]
Dalam
gagasannya tentang rekronstruksi tradisional Hanafi menegaskan perlunya
mengubah orientasi perangkat konseptual system kepercayaan sesuai dengan
perubahan konteks politik yang terjadi. Secara praktis, Hanafi juga menunjukkan
bahwa teologi tradisional tidak dapat menjadi sebuah “pandangan yang
benar-benar hidup” dan memberi motivasi tindakan dalam kehidupan konkret umat
manusia. Secara praktis, teologi tradisional gagal menjadi ideology yang sungguh- sungguh fungsional bagi kehidupan
nyata masyarakat muslim.[15]
2.
Rekontruksi Teologi
Melihat sisi-sisi kelemahan teologi tradisional, Hanafi
lalu mengajukan saran rekontruksi teologi. Langkah melakukan rekontruksi
teologi dilatar belakangi oleh tiga hal :
Pertama, kebutuhan akan adanya
sebuah ideology yang jelas di tengah-tengah pertarungan global antara berbagai
teologi.
Kedua, pentingnya teologi baru ini bukan semata pada
sisi teoritisnya, melainkan juga terletak pada kepentingan praktis untuk secara
nyata mewujudkan teologi sebagai gerakan dalam sejarah.
Ketiga, kepentingan teologi yang
bersifat praktis yaitu secar nyata diwujudkan dalam realitas melalui realisasi
tauhid dalam dunia Islam.
Selanjutnya Hanafi menawarkan dua hal untuk memeperoleh kesempurnaan
teori ilmu dalam teologi Islam yaitu :
Pertama, analisis bahasa, bahasa
serta istilah-istilah dalam teologi tradisional adalah warisan nenek oyang di
bidang teologi, yang merupkan bahasa khas yang seolah-olah menjadi ketentuan
sejak dulu.
Kedua, analisis realitas, analisis
ini dilakukan untuk mengetahui latar belakang histories-historis munculnya
teologi di masa lalu, dan berguna untuk menentukan kea rah mana teologi
kontemporer harus diorientasikan.[16]
Teologi Klasik dan Teologi Pembebasan
Secara klasik, teologi atau corak kalam Hasan Hanafi
lebih dekat kepada Mu’tazilah, dengan cirri-ciri sebagai berikut :
- Dalam menggunakan akal, Hanafi yakin bahwa akal mampu memecahkan berbagai persoalan kehidupan manusia.
- Wahyu dalam teologi Mu’tazilah berfungsi srbagai pandang akal, karena tidak semua yang baik dan buruk dapat diketahui akal.
- Kehendak bebas dan takdir. Menurut Hanafi jika manusia ada menrut kehendaknya, tidak mungkin ia akan memahami determinisme.
- Teori perbuatan. Hanafi berpendapat bahwa manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas perbuatan-perbuatan yang dilakukannya di dunia.
- Kehidupan ssudah mati. Umumnya, para ulama’ berpendapat bahwa surga dan neraka itu abadi.
- Kenabian. Adanya nabi bagi Hanfi bukanlah sesuatu yang wajib.[17]
- Ismail Faruqi
1.
Riwayat Singkat Ismail
Faruqi
Ismail Raj’I al – Faruqi adalah cendekiawan yang
produktif memformulasikan Islam bagi kemajuan di masa modern. Ia lahir pada
tanggal 1 Januari 1921 di Jaffa, Palestina, Pendidikan awalnya di tempuh di College
de Freres sejak tahun 1926-1936. Gelar sarjana muda dalam bidang filsafat
diraihnya di American University di Birut 1941. al- Faruqi kemudian menjadi
pegawai pemerintahan Pelestina yang berada di bawah mandate Inggris selama 4
tahun, dan kemudian menjadi gubernur Galilee
yang terakhir. Dengan jatuhnya provins ini ke tangan Israel tahun 1947, al- Faruqi
memutuskan berghijrah ke Amerika pada tahun 1948.
Tahun 1949, al-Faruqi memulai karir akademisnya di AS
dengan meraih gelar M.A. dalam bidang filsafat dari Indiana University
dengan tesisnya berjudul “ Tenyang Pembenaran Tuhan : Metafisika dan
Epistemologi.” Dari universitas yang sama, ia memperoleh gelar doctor pada
tahun 1952.
Al-Faruqi mulai mengajar di McGillUniversity, Kanada,
tahun 1959, dan secara intensif ia mempelajari Yudaisme dan Kristen. Tahun 1961
sampai 1963, al-Faruqi pindah ke Karachi, Pakistan, untuk ikut ambil bagian
dalam kegiatan Central Institute for Research dan jurnalisme Islamic
Studies. Saat kembali ke AS, al-Faruqi mengajar di School
of Divinity, Universitas of Chichago,
dan selanjutnya memulai program Islam di Syrakus University, New York. Tahun 1968 ia pindah ke Temple University,
Philadelphia,
sebagai guru besar agama dan mendirikan pusat kajian Islam. Ia menetap di
universitas ini sampai akhir hayatnya.
Hidup Ismail Faruqi berakhir tragis setelah ia dan
isterinya, Lamya Faruqi, secara brutal dibunuh pembunuh gelap di rumahnya di Philadelphia apada tanggal
27 Mei 1986. Beberapa pengamat menduga bahwa pembunuhan itu dilakuakan oleh
Zionis Yahudi karena proyek Faruqi yang dikerjakan intens
untuk kemajuan Islam.
2.
Pemikiran Kalam
Al-Faruqi
- Tauhid sebagai inti pengalaman agama
- Tauhid sebagai pandangan dunia
- Tauhid sebagai intisari Islam
- Tauhid sebagai prinsip sejarah
- Tauhid sebagai prinsip pengetahuan
- Tauhid sebagai prinsip metafisika
- Tauhid sebagai prinsip etika
- Tauhid sebagai prinsip tata social
- Tauhid sebagai prinsip ummah
- Tauhid sebagai prinsip keluarga
- Tauhid sebagai prinsip tata politik
- Tauhid sebagai prinsip tata ekonomi
- Tauhid sebagai prinsip estetika[18]
BAB III
PENUTUP
Sekarang telah
lebih dari searus lima
puluh tahun semnjak usaha – usaha pembaharuan dimulai pada pembukaan abad ke –
19. Hasil Hasil pemikiran para pemimpim pembaharuan yang pada mulanya mencapai
tantangan telah banyak diamalkan terutamanya pada abad ke-20 ini.
Proses pembaharuan
yang terjadi di kalangan umat Ialam akan terus berjalan sepanjang zaman . Islam
tidak menghalangi pembahruan yang tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang
dibawa wahyu.[19]
DAFTAR PUSTAKA
Rozak, Abdul, M.Ag., Anwar Rosihon, M.Ag, Ilmu Kalam,
CV.Pustaka Setia, Bandung.
2010
Nasution, Harun, DR. Pembaharuan dalam Islam, Sejarah dan Gerakan
, PT.Bulan Bintang. 1992
Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam, PT.Bulan Bintang.
2003
Nasution Harun, DR. Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran,
Mizan. 1996
Saefudin, Didin, Pemikiran Modern Pot Modern Islam ; Biografi 17
Tokoh, PT. Grasindo Jakarta,
2003
Kertanegara, Mulyadi, Teologi
Islam Rasional, Apresiasi terhadap Wacana dan Praksis Harun Nasution,
Ciputat Pers. 2002
Hasan Hanafi, Profesor filsafat di Cairo University,
Bongkar Tafsir, Liberalisasi, Revolusi, Hermeneutik, Prisma Sophie. 2005
[1] Harun Nasution, “Pembaharuan dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan
Gerakan”, 3-6
[2] Harun Nasution, “Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran”, 5-6
[3] Abdul Razak, Rosihun Anwar, “Ilmu Kalam”, 241
[4] Harun Nasution, “ Islam Rasional , Gagasan dan Pemikiran”, 56
[5] Mulyadi Kertanegara, “Teologi Islam Rasional, Apresiasi terhadap
Wacana dan Praksis Harun Nasution, 97 - 104
[6] Abdul Razak, Rosihun Anwar, “Ilmu Kalam”, 242
[7] Ibid, 243
[8] Franz Magnis Suseno, “Teologi Islam Rasional, Apresiasi terhadap
Wacana dan Praksis Harun Nasution, 126
[9] Abdul Razak, Rosihun Anwar, “Ilmu Kalam”, 238
[10] Ibid. 241-243
[11] Ibid. 233-234
[12] Didin Saefudin, “Pemikiran Modern Pot Modern Islam ; Biografi 17
Tokoh”.
[13] Hasan Hanafi, Profesor filsafat di Cairo University,
“Bongkar Tafsir, Liberalisasi, Revolusi, Hermeneutik”, 9
[14] Ibid. 80
[15] Abdul Razak, Rosihun Anwar, “Ilmu Kalam”, 234-235
[16] Ibid, 237-238
[17] Didin Saefudin, “Pemikiran Modern Pot Modern Islam ; Biografi 17
Tokoh”.
[18] Abdul Razak, Rosihun Anwar, “Ilmu Kalam”, 230-233
[19] Harun Nasution, “Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan
Gerakan”, 208-209
No comments:
Post a Comment